Minggu, 18 Desember 2011

Kematian ibu Dan anak

by Aninditha Rauf

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Konsep adalah kerangka ide yang mengandung suatu pengertian tertentu. Kebidanan berasal dari kata “Bidan” yang artinya adalah seseorang yang telah mengikuti pendidikan tersebut dan lulus serta terdaftar atau mendapat ijin melakukan praktek kebidanan. Sedangkan kebidanan sendiri mencakup pengetahuan yang dimiliki bidan dan kegiatan pelayanan yang dilakukan untuk menyelamatkan ibu dan bayi yang dilahirkan.
Komunitas adalah kelompok orang yang berada di suatu lokasi tertentu. Sasaran kebidanan komunitas adalah ibu dan anak balita yang berada dalam keluarga dan masyarakat. Pelayanan kebidanan komunitas dilakukan diluar rumah sakit. Kebidanan komunitas dapat juga merupakan bagian atau kelanjutan pelayanan kebidanan yang diberikan di rumah sakit. Pelayanan kesehatan ibu dan anak di lingkungan keluarga merupakan kegiatan kebidanan komunitas.
Kelompok komunitas terkecil adalah keluarga individu yang dilayani adalah bagian dari keluarga atau komunitas. Oleh karena itu, bidan tidak memandang pasiennya dari sudut biologis. Akan tetapi juga sebagai unsur sosial yang memiliki budaya tertentu dan dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan lingkungan disekelilingnya.
Dapat ditemukan disini bahwa unsur-unsur yang tercakup didalam kebidanan komunitas adalah bidan, pelayanan kebidanan, sasaran pelayanan, lingkungan dan pengetahuan serta teknologi. Asuhan kebidanan komunitas adalah merupakan bagian integral dari system pelayanan kesehatan, khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu, anak dan Keluarga Berencana.
1.2 Tujuan Penyusunan Makalah
1. Untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Asuhan Kebidanan V (Komunitas)
2. Sebagai bahan pembelajaran untuk mahasiswa stikes surabaya


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kematian Ibu Dan Anak
a. Pengertian Kematian Ibu dan Anak
Kematian ibu dan anak merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Angka kematian ibu dan anak merupakan target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan milenium yaitu meningkatkan kesehatan ibu, dimana target yang akan dicapi sampai pada tahun 2015 adalah mengurangi ¾ resiko jumlah kematian ibu dan anak.

b. Penyebab Kematian Ibu
Penyebab langsung kematian ibu terkait kehamilan dan persalinan terutama adalah perdarahan, infeksi, status reproduksi, partus lama dan abortus. Perdarahan dapat terkait produksi cairan ketuban atau ketuban pecah terlalu dini (sebelum proses persalinan). Adapun perdarahan pascapersalinan, antara lain, karena gangguan pada rahim, pelepasan plasenta, robekan jalan lahir, dan gangguan faktor pembekuan darah. Risiko akan meningkat, antara lain, pada ibu hamil yang menderita anemia dan rahim teregang terlalu besar karena bayi besar.
Salah satu faktor yang memengaruhi kematian ibu ataupun bayi ialah kemampuan dan keterampilan penolong persalinan. Masih ada pertolongan persalinan yang dilakukan dukun bayi dengan menggunakan cara-cara tradisional. Faktor lain adalah kurangnya pengetahuan dan perilaku masyarakat yang tidak mengenali tanda bahaya sehingga terlambat membawa ibu, bayi, dan anak balita ke fasilitas kesehatan.

Kemudian penyebab tidak langsung adalah sebagai berikut :
1. Status gizi
2. higine
3. kesadarah hidup sehat
4. jangkauan pelayanan kesehatan
5. Status ekonomi
6. Pendidikan
7. Tradisi sosial budaya

Di samping itu penanganan kasus sering ditemukan keterlambatan yang akan memeperbesar angka kematian ibu, yaitu :
1. Terlambat memutuskan untuk mencari pertolongan bagi kasus kegawat daruratan obstetri
2. Terlambat mencari tempat rujukan yang disebabkan oleh keadaan, seperti masalah transportasi.
3. Terlambat memeperoleh penanganan yang adekuat di tempat rujukan karena kurangnya sumber daya dan fasilitas kesehatan pada puusat rujukan.

c. Penyebab Kematian Anak
1. Saluaran pernafasan atas
2. Komplikasi perinatal
3. Diare
Tingginya kematian anak pada usia hingga satu tahun, menunjukkan masih rendahnya status kesehatan ibu dan bayi baru lahir; rendahnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak; serta perilaku ibu hamil dan keluarga serta masyarakat yang belum mendukung perilaku hidup bersih dan sehat.

d. Cara penanggulangan Kematian Ibu dan Anak
Ada empat strategi utama bagi upaya penurunan kesakitan dan kematian ibu.
1. Meningkatkan akses dan cakupan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang berkualitas.
2. Membangun kemitraan yang efektif melalui kerja sama lintas program, lintas sektor, dan mitra lainnya.
3. Mendorong pemberdayaan wanita dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan dan perilaku sehat.
4. Mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjamin penyediaan dan pemanfaatan pelayanan ibu dan bayi baru lahir.

2.2 Kehamilan Remaja
Perubahan perilaku seksual remaja yang menjurus kearah bebas, menimbulkan resiko yang harus diperhitungkan. Remaja dengan kehamilan yang tidak diinginkan menghadapi masalah aib karena hamil tanpa nikah, merasa berdosa bila menggugurkan atau meningkatkan kecemasan seiring hamil semakin besar. Tambahan tertekannya remaja hamil ini meliputi rasa takut menyampaikan kepada orang tua
Kehamilan usia dini memuat risiko yang tidak kalah berat. Pasalnya, emosional ibu belum stabil dan ibu mudah tegang. Sementara kecacatan kelahiran bisa muncul akibat ketegangan saat dalam kandungan, adanya rasa penolakan secara emosional ketika si ibu mengandung bayinya.
a. Dampak Kehamilan Resiko Tinggi pada Usia Muda
1. Keguguran
Keguguran pada usia muda dapat terjadi secara tidak disengaja. misalnya : karena terkejut, cemas, stres. Tetapi ada juga keguguran yang sengaja dilakukan oleh tenaga non profesional sehingga dapat menimbulkan akibat efek samping yang serius seperti tingginya angka kematian dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan kemandulan.
2. Persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR) dan kelainan bawaan
Prematuritas terjadi karena kurang matangnya alat reproduksi
terutama rahim yang belum siap dalam suatu proses kehamilan, berat badan lahir rendah (BBLR) juga dipengaruhi gizi saat hamil kurang dan juga umur ibu yang belum menginjak 20 tahun. cacat bawaan dipengaruhi kurangnya pengetahuan ibu tentang kehamilan, pengetahuan akan asupan gizi rendah, pemeriksaan kehamilan (ANC) kurang, keadaan psikologi ibu kurang stabil. selain itu cacat bawaan juga di sebabkan karena keturunan (genetik) proses pengguguran sendiri yang gagal, seperti dengan minum obat-obatan (gynecosit sytotec) atau dengan loncat-loncat dan memijat perutnya sendiri.
Ibu yang hamil pada usia muda biasanya pengetahuannya akan gizi masih kurang, sehingga akan berakibat kekurangan berbagai zat yang diperlukan saat pertumbuhan dengan demikian akan mengakibatkan makin tingginya kelahiran prematur, berat badan lahir rendah dan cacat bawaan.

3. Mudah terjadi infeksi
Keadaan gizi buruk, tingkat sosial ekonomi rendah, dan stress memudahkan terjadi infeksi saat hamil terlebih pada kala nifas.
4. Anemia kehamilan / kekurangan zat besi
Penyebab anemia pada saat hamil di usia muda disebabkan kurang pengetahuan akan pentingnya gizi pada saat hamil di usia muda.karena pada saat hamil mayoritas seorang ibu mengalami anemia. tambahan zat besi dalam tubuh fungsinya untuk meningkatkan jumlah sel darah merah, membentuk sel darah merah janin dan plasenta.lama kelamaan seorang yang kehilangan sel darah merah akan menjadi anemis.
5. Keracunan Kehamilan (Gestosis).
Kombinasi keadaan alat reproduksi yang belum siap hamil dan anemia makin meningkatkan terjadinya keracunan hamil dalam bentuk pre-eklampsia atau eklampsia. Pre-eklampsia dan eklampsia memerlukan perhatian serius karena dapat menyebabkan kematian.
6. Kematian ibu yang tinggi
Kematian ibu pada saat melahirkan banyak disebabkan karena perdarahan dan infeksi. Selain itu angka kematian ibu karena gugur kandung juga cukup tinggi.yang kebanyakan dilakukan oleh tenaga non profesional (dukun).
7. Mengalami perdarahan.
Perdarahan pada saat melahirkan antara lain disebabkan karena otot rahim yang terlalu lemah dalam proses involusi. selain itu juga disebabkan selaput ketuban stosel (bekuan darah yang tertinggal didalam rahim).kemudian proses pembekuan darah yang lambat dan juga dipengaruhi oleh adanya sobekan pada jalan lahir
8. Persalinan yang lama dan sulit.
Adalah persalinan yang disertai komplikasi ibu maupun janin.penyebab dari persalinan lama sendiri dipengaruhi oleh kelainan letak janin, kelainan panggul, kelainan kekuatan his dan mengejan serta pimpinan persalinan yang salahKematian ibu. Kematian pada saat melahirkan yang disebabkan oleh perdarahan dan infeksi.

b. Dampak Kehamilan Resiko Tinggi pada bayinya :
(1) Kemungkinan lahir belum cukup usia kehamilan.
Adalah kelahiran prematur yang kurang dari 37 minggu (259 hari). hal ini terjadi karena pada saat pertumbuhan janin zat yang diperlukan berkurang.
(2) Berat badan lahir rendah (BBLR).
Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan yang kurang dari 2.500 gram. kebanyakan hal ini dipengaruhi kurangnya gizi saat hamil, umur ibu saat hamil kurang dari 20 tahun. dapat juga dipengaruhi penyakit menahun yang diderita oleh ibu hamil.
(3) Cacat bawaan.
Merupakan kelainan pertumbuhan struktur organ janin sejak saat pertumbuhan.hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya kelainan genetik dan kromosom, infeksi, virus rubela serta faktor gizi dan kelainan hormon.
(4) Kematian bayi.kematian bayi yang masih berumur 7 hari pertama hidupnya atau kematian perinatal.yang disebabkan berat badan kurang dari 2.500 gram, kehamilan kurang dari 37 minggu (259 hari), kelahiran kongenital serta lahir dengan asfiksia.(Manuaba,1998).


2. 3 UNSAFE ABORTION
a. Definisi
1. Unsafe abortion adalah upaya untuk terminasi kehamilan muda dimana pelaksanaan tindakan tersebut tidak mempunyai cukup keahlian dan prosedur standar yang aman sehingga dapat membahayakan keselamatan jiwa pasien.
2. Unsafe abortion adalah prosedur penghentian kehamilan oleh tenaga kurang terampil (tenaga medis/non medis), alat tidak memadai, lingkungan tidak memenuhi syarat kesehatan (WHO, 1998).
3. Umumnya aborsi yang tidak aman terjadi karena tidak tersedianya pelayanan kesehatan yang memadai. Apalagi bila aborsi dikategorikan tanpa indikasi medis, seperti korban perkosaan, hamil diluar nikah, kegagalan alat kontrasepsi dan lain-lain. Ketakutan dari calon ibu dan pandangan negatif dari keluarga atau masyarakat akhirnya menuntut calon ibu untuk melakukan pengguguran kandungan secara diam-diam tanpa memperhatikan resikonya.
WHO memperkirakan di seluruh dunia setiap tahun terjadi 20 juta kejadian aborsi yang tidak aman (unsafe abortion) (WHO, 1998). Sekitar 13% dari jumlah total kematian ibu di seluruh dunia diakibatkan oleh komplikasi aborsi yang tidak aman. 95% (19 dari setiap 20 tindak aborsi tidak aman) di antaranya terjadi di negara-negara berkembang (Safe Motherhood 200; 28(1)).

Tabel 1. Aborsi yang Tidak Aman: Perkiraan per Wilayah, per tahun
Wilayah jumlah aborsi yang tidak aman jumlah kematian akibat aborsi yang tidak aman % kematian ibu akibat aborsi yang tidak aman

Dunia 20.000.000 78.000 13

Negara Berkembang 19.000.000 77.500 13

Asia* 9.900.000 38.500 12

Asia Tenggara 2.800.000 8.100 15

Negara maju 900.000 500 13
Catatan:
* Tidak termasuk Jepang, Australia dan Selandia Baru
sumber: WHO, 1998.

b. Alasan Wanita Tidak Menginginkan Kehamilannya
1. Alasan kesehatan, dimana ibu tidak cukup sehat untuk hamil.
2. Alasan psikososial, dimana ibu tidak sendiri tidak punya anak lagi.
3. Kehamilan di luar nikah.
4. Masalah ekonomi, menambah anak akan menambah beban ekonomi.
5. Masalah sosial, misalnya khawatir adanya penyakit turunan.
6. Kehamilan yang terjadi akibat perkosaan.
7. Kegagalan pemakaian alat kontrasepsi.

Ciri – ciri unsafe abortion
1. Dilakukan oleh tenaga medis atau non medis
2. Kurangnya pengetahuan baik pelaku ataupun tenaga pelaksana
3. Kurangnya fasilitas dan sarana
4. Status ilegal

Dampak
1. Dampak sosial.
Biaya lebih banyak, dilakukan secara sembunyi - sembunyi.
2. Dampak kesehatan.
Bahaya bagi ibu bisa terjadi perdarahan dan infeksi.
3. Dampak psikologis.
Trauma

c. Peran Bidan Dalam Mencegah Unsafe Abortion
1. Sex education
2. Bekerja sama dengan tokoh agama dalam pendidikan keagamaan
3. Peningkatan sumber daya manusia
4. Penyuluhan tentang abortus dan bahayanya.


Aborsi Dilakukan Aman Apabila
1. Dilakukan oleh pekerja kesehatan yang benar-benar terlatih dan berpengalaman melakukan aborsi
2. Pelaksanaannya mempergunakan alat-alat kedokteran yang layak
3. Dilakukan dalam kondisi bersih, apapun yang masuk dalam vagina atau rahim harus steril atau tidak trcemar kuman dan bakteri.
4. Dilakukan kurang dari 3 bulan (12 minggu) sesudah pasien terakhir kali mendapat haid.



2.4 INFERTILITAS
a. Pengertian Infertilitas
Kemandulan atau dalam bahasa kedokteran disebut infertilitas merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut pasangan yang gagal untuk hamil dan mempunyai anak setelah berusaha selama setahun. Perempuan yang berhasil hamil namun selalu mengalami keguguran juga bisa disebut mandul.
Menurut dokter ahli reproduksi, sepasang suami-istri dikatakan infertil jika:
 Tidak hamil setelah 12 bulan melakukan hubungan intim secara rutin (1-3 kali seminggu) dan bebas kontrasepsi bila perempuan berumur kurang dari 34 tahun.
 Tidak hamil setelah 6 bulan melakukan hubungan intim secara rutin (1-3 kali seminggu) dan bebas kontrasepsi bila perempuan berumur lebih dari 35 tahun.
 Perempuan yang bisa hamil namun tidak sampai melahirkan sesuai masanya (37-42 minggu).

Infertilitas sendiri ada dua macam, yaitu infertilitas primer dan infertilitas sekunder. Pasangan dengan infertilitas primer tidak bisa hamil sedangkan infertilitas sekunder adalah sulit untuk hamil setelah sudah pernah sekali hamil dan melahirkan secara normal sebelumnya.

Kehamilan merupakan hasil dari suatu proses komplek yang terdiri dari :
1. Seorang perempuan harus menghasilkan sel telur yang berasal dari indung telur atau ovarium.
2. Sel telur harus bergerak menuju rahim melalui saluran tuba.
3. Dalam perjalanan ini, sel sperma dari laki laki harus membuahi sel telur.
4. Telur yang sudah dibuahi kemudian harus menempel pada dinding rahim bagian dalam.

b. Penyebab Kemandulan
kemandulan bukan hanya monopoli kaum perempuan. Faktor perempuan hanya sepertiga dari total kasus kemandulan, sepertiganya lagi merupakan faktor laki laki dan sepertiga sisanya merupakan gabungan antara faktor laki laki dan perempuan.
penyebab kemandulan pada laki laki
Kemandulan pada laki laki umumnya disebabkan oleh :
1. Gangguan pada pabrik sperma sehingga sel sperma yang dihasilkan sedikit atau tidak sama sekali.
2. Gangguan pada kemampuan sel sperma untuk mencapai sel telur dan membuahinya. Masalah ini biasanya disebabkan oleh karena bentuk sperma yang tidak normal sehingga pergerakannya pun tidak normal.
3. Kadang kala masalah sperma ini sudah dibawa sejak lahir, namun masalah ini bisa juga didapat setelah usia dewasa.
4. Biang kerok dari semua ini adalah perubahan gaya hidup. Beberapa gaya hidup yang tidak bersahabat dengan sperma antara lain :
 Suka minum alkohol.
 Suka menggunakan narkoba.
 Polusi udara.
 Merokok.
 Obat obatan yang tidak jelas.
 Penggunaan radiasi dan kemoterapi untuk pengobatan kanker
Penyebab Kemandulan Pada wanita
1. Gangguan pada organ reproduksi
Ada beberapa gangguan yang biasanya terdapat pada vagina, di antaranya:
 Tingkat keasaman tinggi
Bila terjadi infeksi pada vagina, biasanya kadar keasaman dalam vagina akan meningkat. Kondisi ini akan menyebabkan sperma mati sebelum sempat membuahi sel telur. Kadar keasaman vagina juga menyebabkan vagina mengerut sehingga perjalanan sperma di dalam vagina terhambat.
 Gangguan pada leher rahim, uterus (rahim) dan Tuba fallopi (saluran telur)
Dalam keadaan normal, pada leher rahim terdapat lendir yang dapat memperlancar perjalanan sperma. Jika produksi lendir terganggu, maka perjalanan sperma akan terhambat. Sedangkan jika dalam rahim, yang berperan adalah gerakan di dalam rahim yang mendorong sperma bertemu dengan sel telur matang. Jika gerakan rahim terganggu, (akibat kekurangan hormon prostaglandin) maka gerakan sperma melambat. Terakhir adalah gangguan pada saluran telur. Di dalam saluran inilah sel telur bertemu dengan sel sperma. Jika terjadi penyumbatan di dalam saluran telur, maka sperma tidak bisa membuahi sel telur. Sumbatan tersebut biasanya disebabkan oleh penyakit salpingitis, radang pada panggul (Pelvic Inflammatory Disease) atau penyakt infeksi yang disebabkan oleh jamur klamidia.
3. Gangguan Ovulasi
Ovulasi atau proses pengeluaran sel telur dari ovarium terganggu jika terjadi gangguan hormonal. Salah satunya adalah polikistik. Gangguan ini diketahui sebagai salah satu penyebab utama kegagalan proses ovulasi yang normal. Ovarium polikistik disebabkan oleh kadar hormon androgen yang tinggi dalam darah. Kadar androgen yang berlebihan ini mengganggu hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) dalam darah. Gangguan kadar hormon FSH ini akan mengkibatkan folikel sel telur tidak bisa berkembang dengan baik, sehingga pada
4. Kegagalan implantasi
Setelah sel telur dibuahi oleh sperma dan seterusnya berkembang menjadi embrio, selanjutnya terjadi proses nidasi (penempelan) pada endometrium. Perempuan yang memiliki kadar hormon progesteron rendah, cenderung mengalami gangguan pembuahan. Diduga hal ini disebabkan oleh antara lain karena struktur jaringan endometrium tidak dapat menghasilkan hormon progesteron yang memadai.
5. Endometriosis
Endometriosis adalah istilah untuk menyebutkan kelainan jaringan endometrium (rahim) yang tumbuh di luar rahim. Jaringan abnormal tersebut biasanya terdapat pada ligamen yang menahan uterus, ovarium, Tuba fallopii, rongga panggul, usus, dan berbagai tempat lain. Sebagaimana jaringan endometrium normal, jaringan ini mengalami siklus yang menjadi respon terhadap perubahan hormonal sesuai siklus menstruasi perempaun.

6. Usia
Kemampuan reproduksi wanita menurun drastis setelah umur 35 tahun. Hal ini dikarenakan cadangan sel telur yang makin sedikit. Fase reproduksi wanita adalah masa sistem reproduksi wanita berjalan optimal sehingga wanita berkemampuan untuk hamil. Fase ini dimulai setelah fase pubertas sampai sebelum fase menopause.
Fase pubertas wanita adalah fase di saat wanita mulai dapat bereproduksi, yang ditandai dengan haid untuk pertama kalinya (disebut menarche) dan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder, yaitu membesarnya payudara, tumbuhnya rambut di sekitar alat kelamin, dan timbunan lemak di pinggul. Fase pubertas wanita terjadi pada umur 11-13 tahun. Adapun fase menopause adalah fase di saat haid berhenti. Fase menopause terjadi pada umur 45-55 tahun.
Pada fase reproduksi, wanita memiliki 400 sel telur. Semenjak wanita mengalami menarche sampai menopause, wanita mengalami menstruasi secara periodik yaitu pelepasan satu sel telur. Jadi, wanita dapat mengalami menstruasi sampai sekitar 400 kali. Pada umur 35 tahun simpanan sel telur menipis dan mulai terjadi perubahan keseimbangan hormon sehingga kesempatan wanita untuk bisa hamil menurun drastis. Kualitas sel telur yang dihasilkan pun menurun sehingga tingkat keguguran meningkat. Sampai pada akhirnya kira-kira umur 45 tahun sel telur habis sehingga wanita tidak menstruasi lagi alias tidak dapat hamil lagi. Pemeriksaan cadangan sel telur dapat dilakukan dengan pemeriksaan darah atau USG saat menstruasi hari ke-2 atau ke-3.


7. Masa Subur
Marak di tengah masyarakat bahwa supaya bisa hamil, saat berhubungan seksual wanita harus orgasme. Pernyataan itu keliru, karena kehamilan terjadi bila sel telur dan sperma bertemu. Hal yang juga perlu diingat adalah bahwa sel telur tidak dilepaskan karena orgasme. Satu sel telur dilepaskan oleh indung telur dalam setiap menstruasi, yaitu 14 hari sebelum menstruasi berikutnya. Peristiwa itu disebut ovulasi. Sel telur kemudian menunggu sperma di saluran telur (tuba falopi) selama kurang-lebih 48 jam. Masa tersebut disebut masa subur.
Cara untuk mengetahui masa subur antara lain:
1. Dengan memperhatikan keluarnya lendir mulut rahim yang dapat diraba dengan jari (pastikan jari bersih untuk mencegah terjadinya infeksi). Pada saat subur, keluarlah cairan bening seperti putih telur sehingga kelamin terkesan basah. Banyak wanita menganggap hal itu sebagai keputihan. Di luar saat subur, lendir mulut rahim hanya sedikit dan lebih kental sehingga kelamin terkesan kering.
2. Dengan mengukur suhu tubuh setiap pagi sebelum bangun tidur selama beberapa bulan siklus menstruasi (biasanya sampai tiga bulan). Tanda ovulasi adalah apabila terjadi sedikit kenaikan suhu tubuh pada pertengahan siklus haid. Suhu tubuh itu disebut sebagai suhu basal tubuh, yaitu suhu tubuh dalam kondisi istirahat penuh. Peningkatan suhu tubuh yang jelas, walalupun sedikit (sekitar 0,2-0,5 °C), terjadi karena produksi hormon progesteron yang muncul segera setelah ovulasi. Pemeriksaan meliputi pengukuran suhu tubuh setiap pagi pada waktu bangun tidur, dan dicatat pada suatu grafik khusus (bisa didapatkan dari dokter). Cara mengukur sendiri suhu basal tubuh:
 Guncang termometer (termometer dapat dibeli di apotek) hingga di bawah 36°C, dan siapkan termometer di dekat tempat tidur Anda sebelum tidur.
 Saat terbangun di pagi hari, letakkan termometer di mulut anda (termometer oral) selama 10 menit. Penting untuk Anda ingat adalah jangan banyak bergerak. Tetaplah berbaring dan istirahat dengan mata tertutup. Jangan bangun selama 10 menit hingga selesai pengukuran.
 Setelah 10 menit, bacalah dan catat suhu tubuh Anda pada grafik saat tanggal pemeriksaan itu.

3. Dengan memeriksa lendir rahim di bawah mikroskop. Pada saat subur akan tampak bentukan seperti daun pakis yang sempurna.
4. Dengan pemeriksaan USG melalui vagina. Dengan pemeriksaan USG melalui vagina dapat dilihat dengan jelas sel telur yang sudah dilepaskan dari indung telur.

C. Diagnosis
Diagnosis pada infertilitas meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis yang meliputi hal-hal tersebut diatas harus dilakukan oleh kedua pihak, baik suami maupun istri.
Pemeriksaan infertilitas dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti berikut:
1. Suhu basal badan
Siklus ovulasi dapat dikenali dari catatan suhu tubuh. Metode suhu basal badan berdasarkan peningkatan suhu tubuh sebagai peningkatan termal. Peningkatan suhu tubuh ini dilakukan oleh hormon progesteron, yang disekresi korpus luteum setelah ovulasi yang bersifat termogenik (memproduksi panas). Hormon ini dapat menaikan suhu tubuh dan mempertahankannya sampai saat haid berikutnya.

2. Uji lendir serviks
Pemeriksaan uji lendir serviks berdasarkan hubungan antara pertumbuhan anatomi dan fisiologi serviks dengan siklus ovarium untuk mengetahui saat terjadinya keadaan optimal getah serviks dalam menerima sperma.

3. Sitologi vagina
Pemeriksaan usap forniks vagina untuk mengetahui perubahan epitel vagina. Sitologi vagina hormonal menyelidiki sel-sel yang terlepas dari selaput lendir vagina, sebagai pengaruh hormon-hormon ovarium (estrogen dan progesteron).

4. Biopsi endometrium
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh progesteron terhadap endometrium dan sebaiknya dilakukan pada 2-3 hari sebelum haid. kontra indikasinya dapat berupa hamil, infeksi pelvik atau servitis akut/kronik. Biopsi endometrium dapat pula dilakukan untuk menilai fungsi ovarium.

5. Uji pasca senggama
Uji pasca senggama dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya spermatozoa yang melewati serviks.

6. Pertubasi
Pertubasi bertujuan untuk memeriksa patensi tuba dengan jalan meniupkan gas co2 melalui kanula atau kateter foley yang dipasang pada kanalis servikalis.

7. Histerosalpingografi
Tes awal untuk patensi tuba, dapat memperkirakan kelainan anatomi dan patologi pada genitalia interna dan mempunyai efek penyembuhan. Prinsip pemeriksaannya sama dengan pertubasi, hanya peniupan gas diganti dengan penyuntikan media kontras dan penilainnya dilakukan secara radiografik.

8. Laparoskopi
Pemeriksaan ini untuk mengetahui kelainan tuba dan peritoneum. Sebaiknya laparoskopi dilaksanakan segera setelah ovulasi.Pada siklus haid yang tidak berovulasi (Amenore), laparoskopi dapat dilakukan setiap saat.

9. Histeroskopi
Histeroskopi adalah peneropongan kavum uteri yang sebelumnya telah digelembungkan dengan media dekstran 32%, glukosa 5%, dan garam fisiologik. Histeroskopi tidak dilakukan kalau diduga terdapat infeksi akut rongga panggul, kehamilan, atau perdarahan banyak dari uterus.







d. Penanganan Masalah Infertilas
Penanganan beberapa masalah infertilitas disesuaikan dengan etiologi yang menyebabkan infertilitas tersebut,seperti:

1. Air mani yang abnormal
Hal yang bisa dilakukan bagi pasangan dengan air mani abnormal adalah melakukan senggama berencana pada saat masa subur istri
2. Varikokel
Adanya varikokel disertai motilitas spermatozoa yang kurang disarankan untuk melakukan operasi. Kira - kira dua per tiga pria dengan varikokel yang dioperasi akan mengalami perbaikan motilitas spermatozoanya.
3. Sumbatan vas
Pria yang tersumbat yang akan mempertunjukan azoosperma, dengan besar testikel dan kadar FSH yang normal. Operasi vasoepididimostomi belum memuaskan hasilnya.
4.Infeksi
Antibiotika yang terbaik untuk infeksi menahun traktus genitalis adalah antibiotika yang terkumpul dalam traktus genitalis dengan jumlah besar, seperti eritromisin, dimetilklortetrasiklin, dan trimetoprimsulfametoksazol.
5. Defisiensi gonadotropin
Untuk mengobati infertilitas dengan akibat ini dapat diobati dengan gonadotropin.Hiperprolaktinemia pada laki-laki dapat menyebabkan impotensi, testikel yang mengecil, dan galaktoria. Segal et al. dan Saidi et al.,melaporkan kalau diobati dengan dopamin agonis 2-bromo-alfa-ergo-kriptin dapat memperbaiki spermatogenesisnya.
6. Mioma uteri
Mekanismenya, dapat dilakukan miomektomi tapi tidak selalu benih mioma uteri dapat dikeluarkan dengan pembedahan.
7. Masalah tuba yang tersumbat
Masalah tuba yang tersumbat dapat dilakukan dengan pembedahan. Indikasi dari pembedahan ini adalah tersumbatnya seluruh atau sebagian tuba. Tujuan dilakukan pembedahan ini adalah untuk memperbaiki dan mengembalikan anatomi tuba dan ovarium seperti semula. Saat yang paling tepat unuk melakukan pembedahan tuba adalah pada tengah fase proliferasi(fase regeneratif).
8. Endometriosis
Endometriosis dapat dilakukan terapi yang terdiri dari menunggu sampai terjadi kehamilan sendiri, pengobatan hormonal, dan pembedahan konservatif.
8. Hormonal
Jika terjadi gangguan hormonal dapat dilakukan pengobatan sesuai dengan letaknya, misalnya, tingginya prolaktin dapat diatasi dengan bromokriptin atau pariodel
10. Idiopatik
Idiopatik merupakan istilah yang digunakan apabila semuanya baik, tapi pasangan tersebut belum juga hamil.Bagi pasangan idiopatik dianjurkan untuk selalu berusaha terus dan selalu berdoa pada allah SWT.














BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas penulis mengambil beberapa kesimpulan diantaranya :
 Kematian ibu dan anak merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan.
 Remaja dengan kehamilan yang tidak diinginkan menghadapi masalah aib karena hamil tanpa nikah, merasa berdosa bila menggugurkan atau meningkatkan kecemasan seiring hamil semakin besar.
 Infertilitas merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut pasangan yang gagal untuk hamil dan mempunyai anak setelah berusaha selama setahun.
 Umumnya aborsi yang tidak aman terjadi karena tidak tersedianya pelayanan kesehatan yang memadai

3.2 Saran
Kita sebagai tenaga ksehatan hendaknya melakukan pendekatan terhadap masyarakat dalam penanganan masalah yang sering terjadi, khususnya masalah kesehatan ibu dan bayi.








DAFTAR PUSTAKA
http://asuh.wikia.com/wiki/Infertilitas
http://creasoft.wordpress.com/2008/04/23/resiko-tinggi-kehamilan-remaja-usia-muda/
http://enyretnaambarwati.blogspot.com/2009/12/unsafe-abortion.html
http://kosmo.vivanews.com/news/read/70595-rasio_kematian_ibu_dan_bayi_masih_tinggi
http://www.blogdokter.net/2008/06/24/kemandulan-infertilitas-susah-punya-anak/
http://kosmo.vivanews.com/news/read/70595-rasio_kematian_ibu_dan_bayi_masih_tinggi
http://muslimah.or.id/kesehatan-muslimah/infertilitas-pasutri-1.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

terima kasih atas kunjungan anda,,,,!
smoga dapat bermanfaat,,,,,,!!!!!!